Tampilkan postingan dengan label MEMBUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEMBUDAYA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Maret 2011

MENGHARGAI

Apresiasi untuk menghargai orang lain sering kali terabaikan dalam perjalanan hidup. Bahkan tak jarang kita mendaulat orang lain dengan predikat yang buruk. Meskipun itu fakta, tak ada hak kita untuk mendaulat siapapun. 

Kelemahan yang dimiliki oleh orang lain sering menjadi bahan perhatian kita, namun kelemahan kita tak pernah kita perhatikan.

Kata lemah yang terlontar dari teman saya memberi masukan berarti untuk saya hari ini. Dengan keterbatasan seseorang sebagai manusia siapapun bisa dipandang lemah. Lemah bukan berarti tak mampu melakukan apapun, lemah bukan berarti harus mengikuti hobi orang lain, lemah bukan berarti takut untuk berkarya, lemah bukan berarti tak bisa berbuat, lemah bukan alasan untuk diam terbawa arus. 

Bersikap tegas untuk fokus pada sesuatu dan berani untuk menghiraukan yang lain adalah sebuah kekuatan yang harus di apresiasi. Terkadang perkataan orang lain hanya didasari nafsu, namun harus tetap kita hargai.

Jumat, 25 Maret 2011

KETIDAKDISIPLINAN LALU LINTAS

          Teringat akan sebuah pepatah dari senior saya " woooiiii... enggak ada lampu merah di medan". memang aneh terdengar tetapi sering sekali saya menyaksikannya. Terjebak di kemacetan lampu merah yang entah bagaimana penyebabnya, padahal traffic ligth normal tetapi terjadi kemacetan dari simpang Jl. setia budi dan Jl. Dr mansur, terasa sangat aneh. Ada pula yang klakson terus-menerus padahal sama2 kena macet, siapa yang di klakson.
     Traffic ligth berubah fungsi, dengan fungsi awal lampu merah berarti berhenti di belakang garis penyebrangan, lamu hijau berarti boleh jalan, lampu kuning artinya kurangi kecepatan untuk berhenti.
       Perubahan fungsi lampu merah berarti boleh terobos, lampu kuning berarti gas sekencang-kencanganya dan lampu hijau berarti hati-hati karena ada yang menerobos lampu merah adalah sebuah kemunduran cara berfikir masyarakat saya kira. Dari zaman pertama kali di himbau untuk pakai helm, hingga sekarang masih saja ada yang tidak mau menggunakan helm. Begitu juga dengan traffic ligth dari pertama dihimbau untuk mematuhi agar tertib dan lancar hingga sekarang masih ada yang sengaja melanggar.
          pola pikir yang sering tercetus lewat gurauan bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar sepertinya telah mendarah daging. Bahkan teman kos-kosan saya saja sulit sekali menjaga kebersihan.
          Semoga bukan kita yang menjadi korban dari trafic jam ini.

Kamis, 24 Maret 2011

NYONTEK DAN NGOPEK

            Semasa saya duduk di bangku SMK Otomotif, rasanya ingin sekali menjadi mahasiswa. Saat datang kakak2 yang lagi PPL, wah rasanya seperti Bapak Presiden datang dari ibu kota. 
             Pintar, keren, berwibawa, kreatif, cerdas dan kritis adalah kata yang tersirat di benakku. pikiran itu mengganggu otakku, memacu darah mengalir kencang, terbawa mimpi teringat makan. Hingga aku membangun mimpi untuk bisa menjadi mahasiswa, hal yang sulit untuk seorang siswa SMK masuk ke perguruan tinggi negeri. Orientasi dari siswa SMK adalah membangun keahlian untuk siap bekerja (SMK bisa). 
            Mimpi itu perlahan ternoda oleh kebiasaan para mahasiswa yang kurang berusaha untuk jadi sarjana. Orientasi yang salah untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya dengan menghalalkan segala cara. Perubahan orientasi dari "mencari ilmu pengetahuan untuk bisa mengabdikan diri bagi negara melalui karya", menjadi "mencari nilai setinggi-tingginya tanpa perlu tahu ilmu yang menjadi inti dari perkuliahan". Melupakan tujuan yang di bangun saat masuk ke perguruan tinggi, mencari ilmu untuk bisa berkarya.
    
Mungkin banyak yang beralasan untuk membenarkan kecurangan itu dengan alasan keterbatasan diri hingga pembatasan masa studi. Terbatas bukan berarti alasan untuk mengahalalkan segala cara, dan belajar harus dijadikan alternatif yang terbaik dalam menghadapi ujian. Malu pada orang sukses yang berkali-kali gagal untuk mencapai kesuksesan. 
                Bagaimana membangun negara yang maju kalau manusianya mundur. Sibuk memalingkan mata ini untuk tidak melihat orang-orang yang ujian dengan jalan curang. Mungkin juga metode pendidikan yang kurang efektif membentuk pelajar menjadi pelajar yang picik.
         Suatu ketika ada seorang guru yang mengeluh "siswa saya bodoh-bodoh kali, dari 20 soal hanya 6 soal yang terjawab", namun timbul pertanyaan, "bagaimana cara mengajar anda?". Nyontek dan ngopek yang membudaya ini muncul dari sebuah kegiatan yang diulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Hubungan sebab akibat antara kecuranngan dengan sistem pendidikan yang berlaku saat ini harus menjadi perhatian utama bangsa ini, bukan menentukan nilai standar kelulusan sementara semua pelajar mengikuti ujian dengan curang.